Lima Menit Elias
Aroma kuningan menyambut Elias di toko jam tuanya. Hari itu, ia menemukan sebuah jam saku perak di tumpukan rongsokan. Saat ia iseng memutar kenopnya ke kiri, kopi yang baru saja tumpah di mejanya tiba-tiba melayang naik, kembali ke dalam cangkir tanpa bekas. Jam itu bisa memutar balik waktu lima menit.
Di luar jendela yang berembun, seorang gadis bermantel merah tergelincir di jalanan yang licin karena hujan. Ratusan lembar naskah di pelukannya berserakan dan hancur dalam genangan lumpur. Gadis itu terduduk menangis melihat jerih payahnya musnah.
Elias segera merogoh sakunya dan memutar kenop jam perak itu dengan mantap. Dunia berbayang. Rintik hujan bergerak ke atas, dan waktu berputar mundur.
Elias bergegas keluar membawa payung. Tepat saat gadis itu baru akan menginjak ubin licin yang sama, Elias menahan lengannya dari samping.
"Hati-hati, Nak. Jalanan licin," ucap Elias.
Gadis itu terkesiap kaget, lalu tersenyum lega dengan naskah yang masih aman dan kering di pelukannya. Elias kembali ke tokonya sambil menyeduh kopi baru, menyadari bahwa ia kini bisa menyelamatkan dunia seseorang, lima menit demi lima menit.